Our Blog

Setelah Penilaian Akhir Semester 2019, Kepala  Sekolah SMAM-X Duduk Bareng Bahas “Konsep Penilaian Autentik Berbasis Festival” Yang Sudah Dilaksanakan

Sejumlah guru dan panitia pelaksana penilaian Akhir Semester (PAS) Gagal tahun 2019 sekokah keberbakatan Muhammadiyah Boarding Area Sport Art and Sains SMA Muhammadiyah 10 Surabaya (MBA SPARTANS SMAM-X) melakukan evaluasi pelaksanaan PAS yang telah berjalan selama 2 pekan. Hal ini lantaran pelaksanaan PAS tahun ini ada dua model evaluasi, yaitu berbasis e-learning dan autentik berbasis festival. Tanggapan dan saran demi kesempurnaan pelaksanaan PAS diakomodir oleh kepala sekolah keberbakatan SMAM-X Sudarusman dengan menggelar acara “Sharing time” dengar pendapat dengan bentuk lesehan di ruang guru pada Rabu 18 Desember 2019.

Kepala SMAM-X Sudarusman menyampaikan, pelaksanaan PAS Gasal tahun ini benar-benar beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini penekanan pada evaluasi diwujudkan pada hal-hal yang sesungguhnya terjadi pada kehidupan sehari-hari. “Ke depan SMAM-X akan melakukan revitalisasi secara menyeluruh standar pendidikan agar mampu mengikuti zaman. Artinya penilaian autentik berbasis festival akan dikaitkan dengan evaluasi berbadis E-learning. Sehingga pelaksanaan evaluasi benar-benar menyentuh pada ranah kecakapan hidup yang terjadi pada masyarakat khususnya siswa itu sendiri secara nyata. Oleh karena itu, paradigma pendidikan dan standar penilaian harus berubah. Karena jika tidak berubah, dikhawatirkan sekolah akan menghasilkan lulusan generasi yang kalah bersaing atau tertinggal dengan dinamika masyarakatnya, “ujar Sudarusman saat memberikan arahan pada acara sharing tersebut.

Tiga hal yang harus menjadi perhatian di sekolah kita, yaitu paradigma pendidikan berbasis luas di era digital saat ini. Baik guru maupun siswanya  memiliki ilustrasi data, literasi teknologi dan Literasi humanisme. Mengapa? “Karena pada saat ini literasi sudah mulai tergantikan dengan keberadaan literasi teknologi,” tegas Sudarusman sebelum menutup agenda sharing konsep evaluasi autentik.

Post A Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *